Mendengar
bulan ramadan, kita pasti akan langsung teringat dengan ibadah puasa dan waktu memperingati
wahyu pertama kali turun. Semua manusia berbondong-bondong untuk menjadi lebih
taat karena tahu bahwa bulan kesembilan dalam kalender hijriah ini merupakan
bulan semua amal dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Memang seharusnya bulan
ramadan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.
Momen untuk Mengubah Pola Hidup
Di bulan-bulan
lainnya, kita terbiasa hiruk pikuk seakan diatur oleh waktu. Padahal setiap
kita memiliki total waktu yang sama yaitu dua puluh empat jam. Tapi kita
sadari, terkadang kita lalai melaksanakan salat karena masih diburu pekerjaan,
di perjalanan dan seabrek kegiatan dunia lainnya. Kita seakan tidak bisa melepaskan
diri sebentar saja untuk mendahulukan salat wajib.
Selain
itu, kita juga mungkin terbiasa santai dan menunda pekerjaan yang sekiranya
masih memiliki deadline yang cukup panjang. Tanpa disadari, tiba-tiba
hari berganti. Kita sibuk dengan perkembangan dunia di sosial media. Terkadang
lupa bahwa ada anak, istri, suami atau orang tua yang seharusnya lebih banyak
kita beri perhatian.
Apakah itu semua masih kita lakukan selama
ramadan ini? Marilah sejenak kita merenunginya. Selayaknya ramadan ini adalah
waktu untuk kita kembali menata diri, mengubah pola hidup dan kebiasaan buruk
kita menjadi lebih baik.
Momen untuk Memfokuskan Diri
Adanya puasa di bulan ramadan ini menuntut kita untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kapan waktunya kita tilawah alquran, salat, belajar, bekerja dan lainnya. Saking terbatasnya waktu ini, kita perlu melatih konsentrasi dan fokus diri dalam melakukan kegiatan. Kita harus bisa mengelola energi dalam diri agar tetap konsisten berkegiatan
Kita harus memiiliki manajemen waktu yang lebih baik agar ibadah, produktivitas dan Kesehatan tetap dapat berjalan dengan seimbang. Ramadan melatih kita bagaimana ibadah kita semakin berkualitas tapi kita juga dapat terus berkembang.
Momen untuk Refleksi dan Resolusi
Ramadan berlangsung sebagaimana bulan lainnya sekitar dua
puluh sembilan hingga tiga puluh hari. Banyaknya pahala yang ditawarkan selama
ramadan, hendaknya menjadi momen refleksi dan resolusi. Merefleksi hari yang
telah berlalu sebelum ramadan, mentaubatinya dan kemudian menjadikannya sebagai
hikmah untuk hari ini. Ramadan menjadikan diri lebih taat. Setelah itu membuat
resolusi bagaimana latihan selama ramadan tetap bisa berlanjut di bulan berikutnya.
Perbaikan diri pasca ramadan merupakan produk dari diterimanya sebuah amal.
Ibnu Rajab Al-Hambali
mengatakan,
“Membiasakan puasa
setelah puasa Ramadan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadan.
Sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal hamba, maka Allah beri ia taufik
untuk melakukan amal shalih setelahnya.”
Mendengar
bulan ramadan, kita pasti akan langsung teringat dengan ibadah puasa dan waktu memperingati
wahyu pertama kali turun. Semua manusia berbondong-bondong untuk menjadi lebih
taat karena tahu bahwa bulan kesembilan dalam kalender hijriah ini merupakan
bulan semua amal dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Memang seharusnya bulan
ramadan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.
Momen untuk Mengubah Pola Hidup
Di bulan-bulan
lainnya, kita terbiasa hiruk pikuk seakan diatur oleh waktu. Padahal setiap
kita memiliki total waktu yang sama yaitu dua puluh empat jam. Tapi kita
sadari, terkadang kita lalai melaksanakan salat karena masih diburu pekerjaan,
di perjalanan dan seabrek kegiatan dunia lainnya. Kita seakan tidak bisa melepaskan
diri sebentar saja untuk mendahulukan salat wajib.
Selain
itu, kita juga mungkin terbiasa santai dan menunda pekerjaan yang sekiranya
masih memiliki deadline yang cukup panjang. Tanpa disadari, tiba-tiba
hari berganti. Kita sibuk dengan perkembangan dunia di sosial media. Terkadang
lupa bahwa ada anak, istri, suami atau orang tua yang seharusnya lebih banyak
kita beri perhatian.
Apakah itu semua masih kita lakukan selama
ramadan ini? Marilah sejenak kita merenunginya. Selayaknya ramadan ini adalah
waktu untuk kita kembali menata diri, mengubah pola hidup dan kebiasaan buruk
kita menjadi lebih baik.
Momen untuk Memfokuskan Diri
Adanya puasa di bulan ramadan ini menuntut kita untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kapan waktunya kita tilawah alquran, salat, belajar, bekerja dan lainnya. Saking terbatasnya waktu ini, kita perlu melatih konsentrasi dan fokus diri dalam melakukan kegiatan. Kita harus bisa mengelola energi dalam diri agar tetap konsisten berkegiatan
Kita harus memiiliki manajemen waktu yang lebih baik agar ibadah, produktivitas dan Kesehatan tetap dapat berjalan dengan seimbang. Ramadan melatih kita bagaimana ibadah kita semakin berkualitas tapi kita juga dapat terus berkembang.
Momen untuk Refleksi dan Resolusi
Ramadan berlangsung sebagaimana bulan lainnya sekitar dua
puluh sembilan hingga tiga puluh hari. Banyaknya pahala yang ditawarkan selama
ramadan, hendaknya menjadi momen refleksi dan resolusi. Merefleksi hari yang
telah berlalu sebelum ramadan, mentaubatinya dan kemudian menjadikannya sebagai
hikmah untuk hari ini. Ramadan menjadikan diri lebih taat. Setelah itu membuat
resolusi bagaimana latihan selama ramadan tetap bisa berlanjut di bulan berikutnya.
Perbaikan diri pasca ramadan merupakan produk dari diterimanya sebuah amal.
Ibnu Rajab Al-Hambali
mengatakan,
“Membiasakan puasa
setelah puasa Ramadan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadan.
Sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal hamba, maka Allah beri ia taufik
untuk melakukan amal shalih setelahnya.”