Kisah Pohon dan Jiwa: Menggali Nilai-Nilai Kehidupan dalam Novel ‘Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran’
Novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran adalah salah satu novel terbaik karya Mashdar Zainal, seorang penulis yang baru saja menyelesaikan program residensi dari Badan Bahasa Kemdikbud di Kabupaten Karimun Agustus 2024 lalu. Saya memperolehnya dari beliau langsung ketika beliau mengunjungi sekolah kami. Tak lama lagi karya terbaru hasil residensinya juga dapat dinikmati dan menambah kekayaan nilai kehidupan melalui sastra. Novel yang mendapatkan penghargaan Acarya Sastra Badan Bahasa pada 2017 ini menyuguhkan cerita yang menggugah, menyentuh dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang masih sangat relevan hingga hari ini. Melalui novel ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungi makna kehidupan yang sesungguhnya secara menarik melalui simbolisme pohon-pohon yang hidup bersama dengan tokohnya.
Simbolisme
Pohon sebagai Cermin Jiwa Manusia
Pohon semakin matang, semakin tua,
akan semakin indah dan semakin kuat. Tapi manusia tidak. (Hal 110).
Pohon
dalam novel ini digunakan sebagai simbol representasi perjalanan hidup Sawitri,
sang tokoh utama yang memiliki tujuh orang anak. Setiap anak yang lahir
dihadiahi sebuah tanaman berupa pohon yang diberi nama serupa dengan nama
anaknya. Kehidupan, seperti yang digambarkan melalui pohon-pohon dalam cerita
ini, adalah tentang pertumbuhan, perubahan, dan pencarian makna. Setiap pohon
yang diceritakan menggambarkan tahapan hidup manusia mulai masa kanak-kanak
yang penuh harapan, masa dewasa yang penuh tantangan, hingga masa tua yang
dipenuhi kebijaksanaan dan refleksi.
Pohon
pertama, pohon Sumaiyah, si pohon mangga tua yang melambangkan kebijaksanaan
dan kemurahan hati. Mangga yang matang memberikan buah yang manis dan lezat,
tetapi juga hanya jatuh ketika siap, seperti kebijaksanaan yang matang hanya
bisa diperoleh melalui pengalaman hidup yang panjang. Layaknya kisah Sumaiyah
si anak pertama dalam novel ini. Pohon kedua, pohon Sumitrah, si pohon
flamboyan yang dikenal dengan bunga-bunganya yang berwarna cerah dan mencolok.
Ini melambangkan keindahan, keceriaan, dan semangat hidup yang kuat. Meskipun
berbunga indah, pohon ini tetap kuat menghadapi musim kering, mengajarkan
tentang keuletan dalam menghadapi masa-masa sulit.
Pohon
ketiga, pohon Subandi, si pohon asam. Meskipun buahnya terasa asam, pohon ini
memberikan banyak manfaat. Ini menggambarkan bahwa dalam kehidupan, tidak semua
yang pahit atau asam itu buruk, justru bisa memberikan manfaat yang tak
terduga. Pohon ini mengajarkan kita untuk melihat sisi positif dari hal-hal
yang tampak tidak menyenangkan dan bertahan melalui segala kondisi. Pohon
keempat, pohon Sularsih, si pohon sawo. Buahnya yang manis dan kulit yang
keras, melambangkan ketulusan dan kelembutan yang tersembunyi. Pohon sawo
mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu hanya dari luar, tetapi lebih
mendalami dan menghargai kebaikan yang ada di dalamnya.
Pohon
kelima, pohon Sukaisih, si pohon salam. Daun salam sering digunakan sebagai
bumbu masakan, menambahkan aroma dan rasa pada makanan. Ini melambangkan peran
yang mungkin kecil tetapi sangat penting dalam menciptakan harmoni dan
keseimbangan. Pohon salam mengajarkan kita bahwa setiap individu, meskipun
terlihat sederhana atau kurang menonjol, memiliki peran penting dalam
kehidupan. Kehadiran dan kontribusi kita, sekecil apa pun, dapat memberikan
pengaruh positif yang besar. Pohon keenam, pohon Sunardi, si pohon jamblang.
Buahnya yang berwarna ungu tua dan rasa yang khas mengajarkan kita untuk berani
menunjukkan identitas dan kepribadian kita tanpa harus menyamakan diri dengan
orang lain. Pohon ketujuh, pohon Sundari, si pohon ketapang. Pohon ketapang dikenal
dengan daun-daunnya yang lebar dan teduh, serta akarnya yang kuat. Pohon ini
mengajarkan pentingnya memberikan perlindungan dan rasa aman kepada orang-orang
di sekitar kita, tetap kokoh dalam prinsip dan keyakinan kita meskipun diterpa
badai kehidupan serta melepaskan hal-hal yang tidak lagi diperlukan untuk
pertumbuhan baru.
Masing-masing
pohon memiliki fase hidup nya tersendiri. Bagaimana pohon tersebut bertumbuh
hingga mati, adalah kisah perjalanan manusia mulai lahir hingga kembali kepada
Sang Pencipta. Novel ini sarat ajakan untuk menghargai setiap fase kehidupan
dan menemukan keseimbangan yang harmonis dengan alam untuk mencapai kebahagiaan
dan kedamaian batin.
Nilai-nilai Kehidupan dalam Novel
Menanam itu memberi kehidupan, dan
merawat apa-apa yang kau tanam kemudian melihatnya tumbuh itu seperti
menyaksikan keajaiban. (Hal 33)
Membaca
novel ini membuat pembaca berkali-kali merenung. Tidak ada hal yang lebih
penting dalam hidup ini selain menanam dan terus saja menanam. Tanpa perlu
khawatir nantinya apakah yang kau tanam akan memberikan keindahan atau tidak
dan apakah nantinya yang kau tanam akan memberikan kebaikan atau tidak. Itulah
cinta tulus orang tua kepada anaknya, yang seiring waktu akan terus bertumbuh
dan menemui takdir hidupnya masing-masing. Tentang anak yang telah dibekali
modal kehidupan melalui nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua, pada
akhirnya akan mengalami kerentaan.
Kerentaan adalah waktu dimana engkau
dapat meralat setiap keburukan dan menjadikan hidupmu lebih sempurna. (Hal
113-114)
Tak
ada yang sia-sia dari proses menanam, merawat hingga melihat tumbuhnya
kehidupan. Setiap pengalaman, baik itu manis maupun pahit, adalah bagian dari
proses pertumbuhan kita sebagai manusia. Pohon-pohon yang digambarkan dalam
cerita ini seolah-olah berbisik kepada kita untuk lebih peduli dan lebih
bijaksana terhadap diri sendiri dan alam semesta.
Dengan
gaya penulisan yang sederhana namun penuh makna, penulis yang di sosial media
nya mencantumkan bahwa ia adalah pengagum pohon ini, mampu menyentuh hati dan
pikiran pembaca melalui karya nya. Sawitri
dan Tujuh Pohon Kelahiran bukan hanya sebuah novel, tetapi juga sebuah
pelajaran hidup yang akan selalu relevan sepanjang masa.
Unik sekali ketika fase hidup manusia disimbolkan dengan pohon. Ternyata meski sama-sama manusia sejatinya di dalam jiwa tiap insan tersimpan sifat/tipe pohon yang berbeda-beda. Ngelihat ada lumayan banyak tokoh yang diceritakan jadi penasaran dengan gimana cara menulis meramu kisah tujuh orang ini dengan apik dan menyentuh. Jadi penasaran ingin baca.
BalasHapusUnik sekali ide cerita nya. Kang Masdar memang terkenal piawai meracik cerita. Cocok nih, buat jd list buku incaran 😊
BalasHapusWah... Unik ya ide ceritanya. Jadi penasaran itu nanam pohonnya ketika anaknya baru lahir atau gimana ya.
BalasHapusKalau nama ada lah doa, maka pohon yang ditanam dengan berbagai filosofinya sepertinya juga 11 12 dengan doa dan harapan orang tuanya.
Sejak mengenal cerpen remaja saya pun menyukai tulisan beliau, Kak. Beruntung sekali bisa mendapatkan buku ini dari penulisnya langsung, apalagi isi bukunya cukup uniik.
BalasHapus